Kematian pasti akan menghinggapi setiap manusia, cuma bagaimana kematian itu menjemput menjadi suatu hal yang sangat misteri dan kematian itu sendiri tak terduga. Kematian Sophan sophian yang terkenal sebagai artis juga anggota DPR menjadi suatu pelajaran bagi kita semua, “semua seperti mimpi” itulah yang dikatakan Widyawati sang istri yang mendampinginya sepanjang hidup. Dengan gagahnya ia mengendarai kendaraan bermotor yang didepannya dikawal polisi, hanya karena lubang jadilah ia penyebab kematian. Ya kematian yang tak terduga dan tidak bisa diduga siapa pun bahkan Nabi pun tak mengetahui kapan ia di jemput malaikat maut. Kematian akan menjadi indah manakala diri kita memulai hidup ini dengan ibadah, sehingga semua ritme kehidupan menjadi bahagian yang tak terpisahkan dengan ibadah, sehingga begitu ajal menjemput kebahagiaanlah yang didapat karena kematian telah dipersiapkan dengan segala perbuatan yang bernilai ibadah. Cermatilah untaian kata-kata Nabi Muhammad saw. “
“Wahai sekalian manusia, sungguh… dalam hidup kalian ada rambu-rambu petunjuk jalan, maka ikutilah rambu-rambu itu, dan sungguh pada hidup kalian semua ada batas akhir, maka berhentilah pada batas yang telah ditentukan. Sesungguhnya seorang mukmin itu, senantiasa berada pada dua rasa takut: antara kehidupan yang telah ia lalui, dimana ia tidak tahu apa yang diperbuat Allah terhadap dirinya – Apakah Allah catat dia bersama orang-orang yang soleh atau sebaliknya? – dan waktu hidup yang masih tersisa, dimana ia tidak tahu apa yang ditetapkan Allah terhadapnya – Apakah husnul khotimah ataukah sebaliknya, na’udzubillah? karena itu hendaklah seorang hamba mengoptimalkan potensi dirinya untuk menyelamatkan dirinya sendiri, menggunakan kehidupan dunianya sebaik-baiknya untuk membangun kemegahan akhiratnya, menggunakan masa mudanya sebelum tuanya dan mengoptimalkan detik-detik kehidupan ini sebelum ajal, demi Dzat yang jiwa Muhammad digenggaman-Nya, sesudah kematian tak ada kepayahan, sesudah dunia ini tak ada kehidupan, melainkan Syurga atau Neraka”. Ibnu Abbas.
Itulah pilihan hidup Syurga atau Neraka. Akankah kita menjemput kematian dengan penderitaan abadi? Maka konsekuensi seorang muslim adalah bagaimana mempersiapkan kematian dengan amal-amal kebaikan.